March 13, 2011

Life Happens

Beberapa waktu belakangan ini, ada begitu banyak berita mengejutkan dari orang-orang sekeliling saya. Ada beberapa yang (secara tiba-tiba) akan menikah dalam waktu dekat, ada yang hamil setelah usaha panjangnya-atau justru effortless, ada yang sebentar lagi akan melahirkan, ada pula yang sudah asik menimang bayi-nya. Padahal dulu kami semua berada dalam fase kehidupan yang sama.

Dalam dunia karier, ada mereka yang tiba-tiba mengalami peningkatan super progresif, ada yang yang bounce back untuk mengejar passion-nya-walaupun itu berarti mereka harus memulai literally dari awal, adapula yang akhirnya berhasil pindah dari negara ini dengan memanfaatkan segala kesempatan yang ada.

I am happy to hear that, I am happy for them.

Itu pikiran awal yang pasti muncul di kepala saya, lalu: I envy them. So much.

Setelah itu, pasti akan begitu banyak pemikiran yang tiba-tiba muncul di kepala: betapa banyaknya pencapaian atau keinginan yang masih tertunda, rencana-rencana yang masih belum jelas kapan realisasinya dan sebagainya. Lalu perasaan mellow muncul, tentunya..

Akan tetapi bukankah segala yang terjadi pada hidup tiap-tiap orang adalah rejekinya masing-masing. Dan hidup ini adalah rahasia Tuhan??

Well then, what happens? LIFE Happens. Dan saya benci saat itu terjadi.

Maksudnya, saya benci saat saya melihat hidup berjalan untuk semua orang, sedangkan saya tertinggal di belakang..

Suara yang muncul di dalam kepala (SMDK): So, what happens to you?

Saya: What happens to me..? Nothing.. I guess..

SMDK: Well, if life you’ve wanted had not happened to you, just yet. Make it happened!!

*sambil terus menyemangati diri sendiri dan menarik napas panjang*

February 14, 2011

So you think your life is hard?

Jarum jam menunjukan pukul enam lebih empat puluh lima menit di sore hari. Dengan langkah gontai saya berjalan menjauhi area kantor, mencoba menghilangkan segala kepenatan yang sudah terjadi sepanjang hari.

Menunggu angkutan umum yang biasa saya gunakan menuju rumah, datanglah kemudian si nomor 72 berwarna orange, dan sayapun segera beranjak kedalamnya. Celingukan mencari tempat duduk yang tersedia, akhirnya saya menemukan spot di kursi bagian depan. Sebelum melangkah ke arah kursi kosong itu, saya menyadari ada sesosok mahluk mungil yang sedang bercengkrama di pojokan. Hantu? Untungnya bukan.

Mahluk mungil di pojokan itu adalah anak si sopir yang sedang dibawa bapaknya saat bekerja. Anak lelaki yang setidaknya berumur tiga tahun itu bermain mobil-mobilan di lantai kopaja, dan kemudian saya sadari bahwa si ibunya berperan sebagai kondektur. Terbayangkah hidup seperti itu bagi kalian?

Seharian mengukur jalanan, mencari penghidupan yang mungkin benar-benar hanya sekedar sepiring nasi dan mungkin sebotol susu.

Dan jika kita pernah merasa bahwa hidup kita berat, coba bandingkan dengan hidup keluarga kopaja itu.

*dan saya memang masih harus belajar bersyukur*

December 24, 2010

Masks everyone’s wearing


Everyone wears a mask.

Once you’re with your family, you’ll wear father/daughter/mother/big brother mask. You name it.
Once you’re at the office, you might wear a boss/subordinate/leader or even victimized mask.
Some people consider it releasing, while others take it as burden.

Anyhow, apakah sebenarnya perlu bagi each and every one of us memakai topeng itu?

Perlu.itu menurut saya

Karena kita perlu adjust dengan lingkungan sekitar. Adapt dengan mereka dan mingle dengan populasinya.

(Almost) nobody like us for the way we are, at least jika diposisikan pada diri saya sendiri, saya bahkan tidak yakin kalau saya akan menyukai the real me, di setiap waktu.

Or let me rephrase it – kemungkinan besar, saya tidak akan menyukai (almost) everyone jika saya memposisikan diri saya sebagai the real me.

Yet, I adjust.
Bagi saya, topeng itu justru berfungsi sebagai perisai the real me – mungkin orang lain menganggapnya sebagai hipocracy? Terserah.

Yang terpenting untuk saya, preservasi atas the real me, nilai-nilai kebaikan dan kebatilan, value yang saya pegang teguh oleh diri saya sendiri, tetap saya lakukan. Saya tahu mana yang salah, mana yang benar, dan mana yang harus masuk ke gray area (in which, kalo orang lain yang ada di dalamnya, kemungkinan besar saya akan bilang, “Whatever”)

So, wear your mask as you like. Yet preserve the real you deep within as your guidance. Therefore you won’t lose yourself on that Mask Party.

Yet, it would be lovely and tremendously blessed for you to find the one, whom you won’t ever have to put a mask in front of :)

November 21, 2010

When we fell in love…

Menyimpulkan dari hasil perbincangan larut malam saya dengan seorang teman senior, dan pengalaman berbelanja saya dengan nyokap, ada beberapa hal yang dapat saya simpulkan dari perasaan cinta; jatuh cinta; serta perjalanan dalam proses menempuh jatuh cintanya.

Saat kita jatuh cinta, kita mungkin jatuh pada penampilan luarnya, cover, sampul depan, apalah itu kalian sebutkan sendiri.. dan diawal mula perasaan itu muncul, kita bisa saja jatuh cinta secara tidak terbatas, tidak ber-limit, tanpa definisi.

Akan tetapi, saat kita mulai menjalaninya, kita pasti akan menemukan kekurangan, keterbatasan, bahkan halangan bagi kita untuk mencintainya lebih jauh. Dan dalam proses itu juga, bukan tidak mungkin bagi masing-masing dari kita untuk menemukan pembanding dari yang dicintai pada awalnya. Saat pada kenyataannya sang pembanding lebih baik dari yang dibandingkan, akankah kita dengan mudahnya berpaling pada yang lain?

In my own opinion, disaat kita masih belum menetapkan komitmen paten dalam menjalani hubungan itu -mengucap janji suci pernikahan dalam hal jatuh cinta pada orang, dan membeli untuk barang- maka sah-sah saja kalau kita putar haluan.

Konsekuensi yang akan muncul dari tindakan itu, paling tidak, akan timbul perasaan tidak enak terhadap dia yang kita tinggalkan; selain dari itu, it’s a decision need to be made, so made up your mind. Jangan plin-plan, jangan gak enakan, karena once you made up your mind, there shall be no turning back, apalagi pen-dua-aan, nobody likes to share their private belonging, trust me. Dan satu lagi, itu hidup elo.

Maka jatuh cinta-lah, dan ber-logika-lah selama hal itu dimungkinkan. Karena saat kita sudah menetapkan komitmen untuk mengikat yang sang dicintai (sekaligus di-ikat kepadanya) you gotta stick with ‘em, no matter how worse things are getting, you choose ‘em, they are Your’s consequence, and above all, it’s the ethical and charma-cal thing to do.

So, Good luck with your choice, mate :)

November 06, 2010

Siapa bilang orang Sunda gak bisa ngomong F? Itu PITNAH!!!

Banyak dari teman saya, seorang Sundaneese memiliki kesulitan dalam pengucapan huruf F dan V yang terselip dalam kata yang digunakan dalam perbincangan sehari-hari. Seringkali F&V dilafalkan P, sedangkan huruf P dilafalkan sebaliknya.

Huruf, misalnya, seringkali dilafalkan sebagai hurup.

Pulpen, dilafalkan fulfen – yang ini applied only ke Sundaneese yang freshly import from Jawa Barat :P

Tidak lupa pula kosakata Inggris yang umum dipakai, “Approve” yang kemudian dilafalkan sebagai Approp atau bahkan Avvrope.

Jahatnya, walaupun teman saya itu sering melakukan salah lafal itu, pun saya tetap sering mentertawakan hal tersebut bahkan kekeuh mengkoreksi perkataannya.

Suatu hari sepulang dari tour de travel of culinary, tentunya bersama seorang teman Sunda saya itu, kebetulan saya dan empat orang teman lainnya sedang membahas topik IMB yang waktu itu memang sedang hot2nya (berarti sekarang sudah gak hot ya? xP) dan kemudian dia menyebut salah satu kontestan Pangky Fafua. Dan tawa kami berlima pun langsung meledak. Maksud perkataannya adalah Funky Papua, lah kok ya bertransformasi menjadi Pangky Fafua yaaaa..???

Untung saja saat kami sedang makan di salah satu tempat makan di Bogor, ia tidak memesan Makaroni Fanggang!!

Eh, tiba2 jadi inget sama artis jadul Jinny oh Jinny itu.. Diana Funky ya namanya?

;P


August 27, 2010

Such a point of view


Pernah gak sih, kalian mengadakan suatu acara, lalu saat kalian menelpon orang-orang yang diundang, memastikan mereka akan datang ke acara tersebut, mereka yang ditelpon menjawab dengan perkataan, “Insya Allah…”?

Buat saya dan (mungkin) sebagian besar orang, jawaban tersebut biasanya mengindikasikan bahwa si yang diundang, kemungkinan besar, tidak akan datang. Setuju..?

Karena setidaknya untuk saya, jawaban tesebut adalah jawaban “teraman” atas undangan dari si pengundang. Entah karena merasa malas untuk datang ke acara tersebut, atau karena ada alasan lain yang dirasa tidak akan cukup memuaskan untuk menolak si pengundang, sehingga “jawaban jitu” tersebut dikeluarkan dari mulut sendiri. **haha, ketauan deh kalo sering pake jawaban itu :P

Well then, hari ini saya menemukan satu sudut pandang baru, dimana kata tersebut, jawaban tersebut telah “dikembalikan” pada arti harafiah-nya..

Saat sedang bertanya pada seorang teman, mengenai suatu acara:
Saya : X, nanti lo jadi buka bersama di luar?
X : Jadi, emang kenapa?
Saya : Hmm.. ya gapapa sih, Cuma kayaknya acara buka bersama kantor jadinya diadain hari ini. Lo ga bisa cancel acara yang itu ya?
X : Waduh… berat Dit, tadi gue udah bilang insya Allah..

Dan saya pun terhentak.. disinilah saya menyadari betapa berbedanya saya dan dia, kontrasnya sudut pandang antara dua pribadi. Buat saya (biasanya), jawaban insya Allah itu, explicitly, digunakan sebagai alasan untuk ngeles dari suatu acara. Tetapi untuk pribadi yang satunya, jawaban itu justru dijadikan sebagai penguat bahwa dia PASTI akan datang, atau setidaknya berusaha untuk datang ke acara tersebut.

So, which one is yours?

PS: you might also want to check this out http://mysuperkids.net/the-use-of-insya-allah-is-not-for-things-you-dont-want-to-commit/

August 08, 2010

Is there any such thing...?

As I recall some of the memories, suddenly, a word of unconditional love passing by.

Unconditional love.

Do any of such things exist?

Take parent – child relationship that most of people mentioned as the example of unconditional love. Can that be classified as unconditional love?
Because, as I see it from my point of view, it is Un-unconditional. Parents do love their child because they are being positioned as the parents. Am I right?
So, again the question remains, does unconditional love do exist...?