February 07, 2012

Ryan Air - Boarding Pass - the travel continues

19oct2011

It’s amazing how being a nekad traveler in a strange country can push you into such an adventure you could never imagine. Di Paris, pagi-pagi buta hari itu, kami sudah ‘shuffling’ menuju terminal Bordeaux yang akan membawa kami ke airport Ryan Air. Menyusuri stasiun metro dan jalanan yang belum pernah kami kunjungi sama sekali di tengah cuaca yang begitu dingin. Kami berpatokan pada penunjuk jalan dan tentunya bertanya (daripada nyasar :P )

Langit Paris pagi itu masih serupa subuh di Jakarta padahal waktu sudah menunjukan pukul setengah tujuh pagi, yaiks. Untung saja ada beberapa orang traveler yang tampaknya menuju ke arah yang sama dengan kami, sehingga kami tidak benar-benar sendiri.

Ryan Air ini merupakan salah satu budgeted airlines terdepan di Eropa, tapi karena airportnya berada di ujung sekali dari wilayah Perancis, maka kami harus menggunakan shuttle bus untuk menuju kesana. Dalam perjalanan, saya baru ingat kalau saya lupa membawa Boarding Pass untuk perjalanan ke Italy, dan denda yang dikenakan adalah sebesar 40Euro jika kita tidak menyertakannya saat check-in. Oh no.. that amount of money sure ain't cheap when you convert it to IDR, especially when the ticket fares were only around 50Euro! Geeze..

There’s no way I am giving up my 40E without any effort! Jadilah tanya-tanya saya pada bagian informasi airport dengan bahasa Perancis yang pas-pasan ini, konon katanya ada internet + printing spot di area airport. Celingak-celinguk sambil nanya (lagi), ada yang menjawab, “No boarding pass? Oh no, you’re screwed, you have to pay bla-bla-bla” >> helpful banget ya! :D

Anyhow, setelah berkali-kali nanya sama orang, we found the spot. Bonusnya, susunan keyboard computer sana cukup jauh berbeda dengan yang dipakai di Indonesia, belum lagi password email saya cukup complicated :P. I was gonna giving up, but then after several attempts and long last breathtaking, I manage to access my email, then print the 40Euro worth it Boarding Pass, Yeay!! Mission avoiding the 40E fines succeeded.

Moral of the story: never forget your boarding pass as you’re flying and try not giving up even though there’s sound demotivating you to achieve your goals :)

ps: breathtaking is truly helpful facing a stressful situation :D

December 18, 2011

The Nekad Traveller continues

Dan tibalah kami di Hotel Amarys Simart. Kami memperoleh kamar di lantai lima. Awesome, should be, tapi karena mereka GAK punya lift, jrengjreeengg…! Bayangkan bawaan saya yang segaban itu saya angkat dengan susah payah kesana. Untung saja kami tidak menunda check-in seusai berkeliling hingga malam nantinya. Plus there’s no such thing as bell boy there, so kalo kita butuh apa-apa, kita urus sendiri deh, pe-er banget deh.. :D

Kamar yang kami tempati bisa dibilang lumayan dan ada pemandangan balkonnya. Walaupun ruang kamarnya sangat compact, begitupula dengan ukuran kamar mandinya, tetapi bersih dan acceptable untuk digunakan sebagai tempat peristirahatan lah.. toh selama disana kami pasti akan lebih banyak mengeksplorasi dunia luar, pastinya!

Petualangan kami dimulai dengan mengunjungi Sacre Ceur (The Hill of Sacred Heart) yang terletak di dekat area Montmare. Setelah membekali diri dengan membeli kebab di restoran Turki dekat hotel, kami menggunakan Metro menuju kesana.

As I said earlier, nyasar tiga jam itu sudah membuat kami khatam ilmu perMetro-an Paris, maka dengan mudahnya kami menemukan rute menuju kesana, plus di setiap stasiun Metro pasti terpampang peta besar yang menggambarkan seluruh rute Metro, dan untuk beberapa area wisata, dicantumkan dengan jelas tempat pemberhentiannya.


Dengan ditemani hujan rintik-rintik, perjalanan menuju Sacre Ceur saya rasakan paling berkesan. Untuk menuju kesana, kita harus menapaki jalan menanjak yang sebelah kanan kirinya adalah toko-toko souvenir, dan ada banyak pelukis yang menawarkan jasanya untuk melukis kita dalam goresan tinta.

Sacre Ceur pada dasarnya adalah tempat ibadah yang berada di puncak bukit, begitu masuk kedalamnya, sungguh terasa kemegahannya, dan kebetulan pada saat itu, sedang ada choir yang begitu indahnya mengalun mengisi ruang-ruang dan menemani para wisatawan berkeliling menikmati karya seni yang ada di dalamnya. Jangan lupa untuk membeli koin souvenir yang dapat dibeli melalui mesin penjual otomatis.




Ohya, dalam perjalanan menuju kesana, anda harus waspada terhadap gerombolan imigran yang ‘menjual’ tali temali pada wisatawan dengan paksa, ataupun mereka yang mengaku dari Yayasan Disabled yang meminta kita mengisi form yang kurang lebih intinya meminta donasi. Konon kata Echa, teman saya yang tinggal disana, mereka kurang lebih sama dengan oknum gepeng di Jakarta.

Kelar berkeliling & berfoto di Sacre Ceur (ps: sebenarnya didalam Sacre Ceur sendiri tidak diperbolehkan untuk mengambil foto, tetapi namanya wisatawan nakal yah, tetep ya curi-curi foto mah dilakonin :P) kami lalu berjalan ke area Montmare, dan mengunjungi pasar seni lokal yang ada disekitarnya. Begitu banyak karya seni yang menarik yang berada di dalamnya, hanya saja range harga yang ditawarkan memang tidak bisa dibandingkan dengan harga barang-barang seni di Bali, misalnya – ya iyalahyaaa.. :D

Dari Montmare, kami melanjutkan perjalanan ke Eiffel setelah mengambil tiket Paris Pass terlebih dahulu. Fyi, Paris Pass ini adalah semacam tiket terusan yang bisa kalian beli dengan harga tertentu (tergantung berapa hari yanga akan digunakan) yang bisa digunakan untuk memasuki beberapa area wisata, macam Museum Louvre, Gravin Museum, dan lain sebagainya (monggo dicek langsung ke websitenya), dan penggunaan Paris Pass ini, cukup saya rekomendasikan mengingat faktor kepraktisan dalam penggunaannya dibanding harus mengantri tiket masuk tempat-tempat wisata, plus ada tiket Metro terusan (selama beberapa hari sesuai pembelian) yang kita dapatkan begitu kita membeli Paris Pass ini.

Perjalanan menuju Eiffel dari pusat kota agak membingungkan dalam pencarian stasiun Metro itu sendiri, ditambah hujan yang masih belum berhenti menemani petualangan kami di hari pertama itu. Setelah kami mencapai stasiun Trocadero >> Metro stasion yang terdekat untuk mencapai Eiffel Tower, tapi kok ya belum kelihatan ya menara tinggi yang legendaris itu? Begitu kami bertanya pada orang sekitar, ternyata menara itu hanya satu belokan dari posisi saya, dan berdirilah menara tinggi nan menawan itu disana, dingin, angkuh, namun begitu anggun tegak berdiri di area lapang, barulah sahih pada momen itu bahwa kami, sudah touch down di Paris!

Berjalan mendekati menara itu terasa begitu mendebarkan, walaupun pada kenyataannya sedikit ironi karena ternyata menara Eiffel mirip2 sutet. Yak sutet tegangan tinggi yang biasa kita temukan disini, xixixixi.. Cuma yang kami lihat disini adalah versi raksasanya, plus lebih indah karena lampu-lampu indah siap menyala disekitarnya pada malam harinya.



Saya janjian dengan Echa untuk ketemuan disana, lalu kami ngobrol-ngobrol sebentar di café sekitar situ, sambil bertanya padanya tempat pemberhentian tempat tujuan kami selanjutnya. Agak iri juga mendengar dia berbicara dengan begitu lancarnya dalam bahasa Perancis pada pelayan café tsb, juga membayangkan bagaimana rasanya hidup dan bekerja di kota ini :)

Sudah tiba di Eiffel, rasanya tidak puas jika tidak naik ke puncak sana, maka beberapa hari sebelum perjalanan dimulai, kami membeli tiket online untuk naik hingga ke puncak menara Eiffel. Gila, pemandangan dari atas sana, super! Ditambah cuaca dinginnya yang bikin pengalaman ‘mendaki’ ke puncak Eiffel itu tak terlupakan.

Unfortunately, karena besok paginya kami sudah akan terbang ke Italy, kami harus menyudahi petualangan kami malam itu lebih cepat. It’s resting time.

Ps: no jet lag has gotten us in anyway. Ihiiiyyy..!!!!

December 11, 2011

Indahnya Metro Paris

Menggunakan Metro sebagai alat transportasi umum di Paris sebenarnya sungguh sangat mudah, selama kita tahu mau turun dimana, karena jalur yang mereka miliki sungguh sangat lengkap dan mampu menjangkau sudut-sudut kota, dari ujung yang satu hingga ujung lainnya, sehingga kita tinggal mencari jalur terpendek untuk mencapai tempat tujuan. Mirip-mirip jalur TransJakarta, tapi bagaikan langit dan bumi jika dibandingkan dari sisi ketepatan waktu, karena setidaknya setiap lima menit (kebanyakan kurang dari itu) Metro melewati setiap stasiun.

Andai saja Jakarta bisa memiliki transportasi semacam itu.

The Nekad Travellers part 3

Berjalan menyusuri stasiun seperti orang tersesat *padahal emang nyasar, dengan pedenya kami berjalan ke ujung lain dari tempat awal kami turun. Begitu tiba ke ujung lainnya, ternyata kami harus terlebih dahulu membeli tiket Metro yang ada di sekitar titik awal kami turun dr RER. Gubrak!! Putar balik, saudara-saudara!

Untung saja semangat masih 45banget!

Berhubung perut agak keroncongan, daripada tepar di tengah perjalanan, akhirnya saya membeli makanan Asia di stand terminal itu. Mahal bok, satu tusuk (3pcs) baso ikan saja harganya 4.5Euro (+-IDR50rb) ajaaah!

Lalu, setelah bertanya-tanya pada orang sekitar dengan kalimat andalan yang diucapkan dalam bahasa Perancis yang artinya apakah mereka bisa berbicara bahasa Inggris, ditambah bahasa tubuh untuk menanyakan tempat membeli tiket Metro, akhirnya kami sampai di depan mesin penjualnya. Dan kami berdua, cecengoan di depan mesin yang sudah sangat advance itu (maklum ya bo, disini kan gak ada mesin kayak begitu) kami mencoba-coba mengeksplorasi mesin tersebut.

Sampai tiba-tiba datang seorang bapak berambut tipis yang akan membeli tiket, lalu menawarkan utk membelikannya untuk kami dan menyuruh kami mengikutinya sambil memberikan instruksi arah tujuan untuk mencapai hotel kami. Tapi ya namanya masih gak ngerti ya bo, akhirnya NYASAR MANING.. nyasar maniiingg.. baguuuuussss…

Tiga jam sudah berlalu, dan saya pun hampir desperate (let’s not forget barang bawaan yang harus digeret2 plus dibawa naik turun tangga stasiun metro, whoosah). Sementara jarum jam sudah menunjukan hampir jam 12siang, akhirnya saya bertanya pada teman kuliah saya yang stay di Paris beberapa tahun belakangan ini, dan voila! Dalam waktu kurang dari 20 menit, kami sudah berada di track yang benar dan pukul 12.30 kurang, kami sudah tiba di hotel, tentunya masih tetap dengan bertanya pada orang sekitar alamat hotelnya, teteeeupp… *deeuuhh.. daritadi kek ya nanya ama temen gue itu…*

Tapi tampaknya edisi nyasar tiga jam itu membuat kami khatam ilmu Metro-nya Paris, karena pada akhirnya kami bisa dengan mudah mengerti rute, metro line, dan ngalor ngidulnya sistem transportasi Metro :D

November 29, 2011

The Nekad Travellers parts 2



Yes..!! We got the visa!! Ihiiiyyyy…

Usaha, penantian, keribetan maupun ketegangan yang muncul selama proses ini terbayar sudah.
Dan visa schengen dengan foto saya (yang kebetulan bagus) itu tertempel dengan manisnya di paspor bersampul hijau kepunyaanku.

Rute penerbangan yang ditempuh adalah melalui Kuala Lumpur terlebih dahulu, ditambah delay selama hampir 1.5jam, begitu sampai di LCC Terminal, tergopoh-gopohlah saya dan Wiena untuk mengejar pesawat yang akan berangkat menuju Perancis. Perjalanan KL-Orly ditempuh dalam waktu empat belas jam, dengan menggunakan Air Asia yang memang budgeted airlines itu. Perjalanan terhitung lancar & aman, jadi tidak perlu khawatir untuk terbang bersama airlines tsb, apalagi mereka menggunakan pesawat airbus yang cukup besar. Tapi jangan dibandingkan dengan penerbangan premium macam SQ, Qantas dsb-nya ya, karena untuk makanan serta perlengkapan tidur (bantal, selimut & penutup mata) kita memang harus memesannya dengan mengeluarkan biaya tambahan.

Tiba di Orly pada pukul 9pagi dan cuaca diluar sana cukup dingin mengingat saat itu adalah pertengahan Oktober, dimana musim gugur sudah hampir usai berganti musim dingin.

Saya sendiri baru menyadari bahwa saya berada di Negara yang sama sekali asing saat kami tidak mengerti tulisan serta transportasi apa yang harus digunakan untuk mencapai distrik Paris. Mengikuti petunjuk yang ada di buku panduan wisata, kami membeli tiket OrlyVal yang semacam kereta listrik mini untuk menuju ke stasiun metro. Sambil membuka-buka peta, kami mencoba menebak rute selanjutnya, dimana kami harus turun, lalu naik metro yang mana, dsb. Hingga saat dimana tampaknya semua orang berdiri dan turun dari OrlyVal tsb. Masih pede jika kami masih akan turun di beberapa pemberhentian berikutnya, kami masih dengan santai melihat peta perjalanan, hingga seorang pria menanyakan pada kami, dalam bahasa Inggris, apakah kami akan menuju Paris, lalu menyuruh kami untuk segera mengikutinya dan turun. Dengan tergopoh saya menggeret bagasi seberat 15kg dan backpack 5kg serta tas tangan yang ternyata bikin rempong, untungnya orang itu sabar menunggu.

Namanya Jeremy, he’s a fellow traveler, kebangsaan Perancis yang sangat baik hingga mau menolong kami menunjukan arah yang harus kami ambil, dalam bahasa Inggris. At that time, He’s our angel : ) Jika saja dia tidak memberitahu kami untuk turun, saya rasa kami akan ikut berputar kembali ke tempat awal.




Jadi, dari Orly, kita harus turun di pemberhentian terakhir (Anthony, if I weren’t mistaken) dan naik RER ke stasiun Metro yang akan membawa kami ke arah hotel. Ia memberitahu di stasiun mana kami harus turun, sayangnya ia turun terlebih dahulu, sehingga setelah stasiun yang diberitahukannya, we’re on our own…

(still continuing...)

October 30, 2011

The Nekad Travellers


October 17, 2011

Let the journey begins…

So, the initial of this journey were starting off from last year. Dimana dua bocah kantoran gila & impulsif ini (me @dita_actually & wiena @WienaEstikawaty) yang awalnya hanya berencana travelling ke Bali, tiba-tiba melihat promo Air Asia utk tujuan Paris dengan nominal yang amat menggoda. Cheap, for sure. Bermodalkan mimpi dan semangat untuk travelling abroad, akhirnya kami berhasil mem-booking tiket plus hotel selama 6hari 5malam di Negara yang konon katanya indah nan mempesona itu. (ps: waktu itu tiket PP + akomodasi tertagih sekitar delapan jeti sajah)

Tantangan selanjutnya adalah memperoleh visa Schengen yang denger-denger agak susah, apalagi ada yang bilang akan lebih susah jika paspornya masih kosong. Tetapi dengan kekuatan pikiran positif ala Mario Teguh, saya maju tak gentar (walaupun tetap mengencangkan ikat pinggang, heuhehuehu..)

Visa Schengen ini adalah jenis visa yang harus kita (sebagai WNIndonesia) peroleh utk bisa memasuki wilayah Uni Eropa, Perancis salah satunya. Konon katanya, kalau warga Negara tetangga sebelah (Malaysia & Singapura) gak perlu nih urus2 visa Schengen utk traveling ke Eropa, demm..

Perjuangan untuk memperoleh visa ini yang agak bikin deg-degan. Saat mengajukan permohonan visa Schengen tujuan Perancis, syaratnya sebagai berikut (utk informasi yang lebih update, mungkin bisa cari info lewat travel agen yang kalian kenal) :


· Paspor min. masa berlaku 6 bulan dan lampirkan paspor lama
· Pas foto 3,5cm x 4,5cm latar belakang putih 2 lembar terbaru berwarna, tidak memakai tutup kepala / jilbab atau boleh memakai jilbab tapi telinga harus kelihatan . Foto diambil dalam 06 bulan terakhir.
· Ticket pesawat return
· Surat sponsor dari perusahaan tempat kerja atau surat keterangan bekerja yang menyatakan keterangan mengenai nama lengkap ,jabatan, tanggal mulai bekerja di perusahaan tersebut serta pihak yang bertanggung jawab atas pengeluaran selama perjalanan. Dalam Surat Sponsor tersebut harus tercantum alamat jelas, nomor telepon dan fax serta cap dan tanda tangan dari perusahaan tersebut.. Surat Sponsor tersebut harus dalam Bahasa Inggris.
· Keterangan tempat tinggal berupa : reservasi hotel, bukti kepemilikan, atau kontrak tempat tinggal. Jika akan tinggal di rumah keluarga/teman orang Perancis, diperlukan : surat keterangan dari walikota setempat (asli)/ attention de accuille dan surat pernyataan dari pengundang akan tinggal di rumahnya dari tanggal … s/d … dan dijamin kembali ke Indonesia pada tanggal … dan fotokopi ID pengundang.
· Konfirmasi hotel via internet tanpa jaminan kartu kredit tidak bisa diterima
· Slip Gaji Asli dan copy
· Asuransi perjalanan / travel insurance asli
· Bukti keuangan 3 bulan terakhir ybs ( buku tabungan atau rekening koran ) asli dan copy >> Bank balance yang disarankan adl minimum 50jt
· Kartu Keluarga asli dan copy
· Copy akte lahir anak beserta surat keterangan sekolah atau copy kartu pelajar (bila anak ikut pergi)
· Paspor dengan alamat luar negri tidak bisa apply (harus mutasi ke alamat di Indonesia)
· Isi form aplikasi

Pengurusan visa ini bisa dimulai paling cepat 3bulan sebelum keberangkatan, dan prinsip dasarnya adalah, lebih cepat lebih baik. Namun berhubung satu dan lain hal, saya baru sempat melakukan pengurusan visa ini 1.5bulan sebelumnya, in which travel agent yg tadinya saya andalkan mengatakan bahwa masih aman utk mengurus visa dlm jangka waktu tersebut. Semua dokumen serta persyaratan sudah saya siapkan, dan diserahkan pada si travel agent di awal September dengan tingkat kepercayaan diri SUPER.

Lalu dua hari kemudian, saya dikabari bahwa kedutaan Perancis fully booked hingga pertengahan Oktober. Hey… saya harusnya sudah berangkat pada saat itu, bukan??

Pening hingga nyut-nyutan muncul ke ubun2 kepala :D

Dari berkonsultasi pada si bos yang sudah berkali-kali bolak balik ke Eropa hingga bertanya langsung ke Kedutaan. Sambil panas dingin akhirnya menenangkan diri utk mencari informasi di Internet. Alhamdulillah, ketemu juga jalannya, sesuatu banget.

Jadi, untuk pengurusan visa Schengen tujuan Perancis, mereka sudah menunjuk single agen yang bisa kalian temukan di TLSContact.com. Tinggal ikuti prosedur yang mereka jabarkan di web, lalu tunggu kabar.

Tapi mengingat waktu perjalanan saya yang ternyata sudah masuk dalam hitungan mepet, dan jadwal paling cepat yang bisa saya dapatkan adalah pada dua minggu sebelum keberangkatan.

O o.. that doesn’t seems so good.
Akhirnya saya telepon TLSContact directly lalu sedikit ‘curhat’ sama personnelnya, meminta saran apakah ada yg bisa saya lakukan utk memperoleh jadwal interview lebih awal daripada yg sudah dijadwalkan, karena tentunya tiket promo itu non refundable + gak flexi date. Personel TLS, untungnya, begitu baik dan menyarankan saya utk menelpon mereka saat semua dokumen siap lalu minta untuk dimasukkan pada waiting list interview :)

Waiting list interview ini adalah metode percepatan pengurusan, so instead of waiting for the scheduled interview, saat ada jadwal yang kosong, kita akan ditelpon untuk langsung datang dan membawa kelengkapan yang diperlukan. Tapi tentunya mereka tidak bisa memberikan jaminan kapan kami akan dipanggil untuk interview tersebut.

Dalam masa ‘idah’ penantian, disertai saran dari Mba Lies @lies_elviana - senior secretary di kantor lama saya yang dulunya udah khatam soal urus2 travelling, saya memutuskan untuk mencoba apply visa di kedutaan Belanda sebagai backing up. Aplikasi di kedutaan Belanda sepertiny lebih mudah dan kosong, sehingga untuk mendapatkan janji temu lebih cepat. Tapi berhubung segala booking yang sudah diprepare berkonteks di Paris, jika kami mau mengajukan visa Schengen kesana, otomatis kami harus book akomodasi disana terlebih dahulu. Haduh.. grogi setengah mati rasanya. Ujung2nya saya pasrah dan kencengin doa, supaya jalannya dilancarkan #Amien. Yang mana yang cepet dulu deh yang akan diurus. Kalau ternyata TLS tak kunjung memanggil sebelum janji temu dengan Kedutaan Belanda, ya mau gak mau, saya perlu booking akomodasi etc utk di Belanda itu sendiri.

Fyi, pengurusan visa Schengen untuk melalui Kedutaan bisa dilakukan melalui dua cara: (1) entry country: jadi kita mengajukan visa Schengen melalui Negara Uni Eropa yang pertama kali kita masuki (2) longest stay: diajukan di Negara yang paling lama kita tempati selama travelling disana.

Namun ternyata tidak sampai 2minggu dari pengajuan waiting list di TLS, saya sudah dipanggil utk interview, sehingga kami tidak perlu mengatur akomodasi Kedutaan Belanda. Saya bertandang kesana tentunya sepaket dengan office mate saya dan meluncurlah kami kesana.

Wawancaranya berjalan dengan sangat lancar, lots of laughs, sesi curcol, dan ternyata tidak serumit yang dibayangkan, kata personnel TLS, selama kelengkapan yang diperlukan sudah sesuai, visa pasti keluar kok :D Yes! Tambah positive thinking positive feeling deh :)

Tapi tetep aja deg2an nunggu 2minggu sampai keputusan visa-nya diperoleh.

Lalu apakah yang terjadi??
*to be continued..


August 17, 2011

Beugh..!

udah tiga bulan aja gitu saya mengabaikan blog ini..

Kalo kamar kayaknya udah debuan dimana-mana plus muncul jaring laba-laba di sudut-sudut kamar :D

Baiknya saya bersihkan dulu 'mereka-mereka' itu ya :)

Anyhow, tepat sekali di hari ke-17 Bulan Ramadhan tahun ini bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia di tanggal 17 Agustus, double up the 17 numbers, coincidence? there's no such thing as coincidence.

Semoga masing-masing dari kita bisa sesegera mungkin menemukan jalan terbaik untuk kembali memerdekakan negara ini dan membangunnya menjadi negeri impian. Dan semoga itu semua tidak lagi menjadi hanya semoga dalam waktu singkat!

So wake up and make it realize! :)