Alkisah dalam kesempatan curi-curi break time di sore hari. Saya-seperti biasa-menuju ke pantry, berharap ada makanan gratisan dari orang-orang yang ulangtaon atawa dari klien yang tiba-tiba ngasih cakes yummy, sluurrpp... xP
Kebetulan, ada dua orang yang sedang berada disana. Kita sebutlah seorang atasan bule, Mister Y dan seorang IT personnel, Mister X. And the scene goes on like this:
Mister Y menunjuk mesin pembuat kopi yang sudah rusak semenjak beberapa hari yang lalu sambil berkata kepada Mister X, “You can fixed it, right? Go fix it..” sambil tertawa.
Ikut tergelitik, dalam hati saya nyeletuk, “mentang-mentang si Y orang IT, si mister X pikir segala barang elektronik bisa dibenerin dia kali ya??”
**yah, asal jangan genteng lo bocor aja minta dibenerin juga, halah-halah...
Showing posts with label daily: morale. Show all posts
Showing posts with label daily: morale. Show all posts
February 17, 2010
January 29, 2010
Saya memang..
masih belum pandai bersyukur..
Pergi ke kantor bawa kendaraan sendiri masih bisa mengeluh: “aduh.. capek, gak bisa tidur dalem mobil.. Belom lagi macetnya, trus motor-motor di Jakarta yang selalu bisa membuat saya bersumpah serapah di pagi hari, sehingga begitu sampai kantor, jatohnya saya jadi capek dan ngantuk… Ngantuuuuuukkkk…”
Kalau naik angkutan umum, “aduh.. saya kan gak biasa bangun pagi-pagi.. masi ngantuk sudah disuruh bangun supaya naek angkutannya tidak kesiangan.. males banget.. Mana angkotnya lemot lagi - trus abangnya suka berhenti-berhenti untuk menambah muatan saat penumpangnya berkurang…” Sampai kantor, selain bĂȘte karena kelemotan tukang angkot dalam memastikan penumpangnya sampai tepat waktu, yang menjadi bukti betapa tidak suksesnya pengaturan infrastruktur di Jakarta (minimal Pamulang lah yaaa…), juga bĂȘte karena begitu sampai kantor, bawaanya gak seger, bau matahari, sedikit keringetan karena kena sinar matahari yang mani nyentreng pisan..
Halah halah… mau lo apa sih bu…??? begini capek, begitu capek. Namanya juga hidup ya booo… everything has its own cost and benefit. It’s what we called as trade-off. All you can do just live your life, regardless all of its consequences, its just life…
So, saya akan berusaha, memperbaiki diri untuk lebih BERSYUKUR atas kehidupan yang saya jalani. Segala pahit-manisnya, segala tetes keringat dan air mata, karena memang hidup tidak adil, tetapi percayalah, Tuhan maha adil… :)
Pergi ke kantor bawa kendaraan sendiri masih bisa mengeluh: “aduh.. capek, gak bisa tidur dalem mobil.. Belom lagi macetnya, trus motor-motor di Jakarta yang selalu bisa membuat saya bersumpah serapah di pagi hari, sehingga begitu sampai kantor, jatohnya saya jadi capek dan ngantuk… Ngantuuuuuukkkk…”
Kalau naik angkutan umum, “aduh.. saya kan gak biasa bangun pagi-pagi.. masi ngantuk sudah disuruh bangun supaya naek angkutannya tidak kesiangan.. males banget.. Mana angkotnya lemot lagi - trus abangnya suka berhenti-berhenti untuk menambah muatan saat penumpangnya berkurang…” Sampai kantor, selain bĂȘte karena kelemotan tukang angkot dalam memastikan penumpangnya sampai tepat waktu, yang menjadi bukti betapa tidak suksesnya pengaturan infrastruktur di Jakarta (minimal Pamulang lah yaaa…), juga bĂȘte karena begitu sampai kantor, bawaanya gak seger, bau matahari, sedikit keringetan karena kena sinar matahari yang mani nyentreng pisan..
Halah halah… mau lo apa sih bu…??? begini capek, begitu capek. Namanya juga hidup ya booo… everything has its own cost and benefit. It’s what we called as trade-off. All you can do just live your life, regardless all of its consequences, its just life…
So, saya akan berusaha, memperbaiki diri untuk lebih BERSYUKUR atas kehidupan yang saya jalani. Segala pahit-manisnya, segala tetes keringat dan air mata, karena memang hidup tidak adil, tetapi percayalah, Tuhan maha adil… :)
Ternyata!
Ada yg suka nonton Take Me Out Indonesia (TMOI)? Trus ngiler-ngiler liatin si Mister Choky Sitohang yang keren banget itu? Hohoho…
Kemarin ini, kebetulan pas saya ganti-ganti channel, muncullah si acara TMOI itu di layar kaca. Berhubung tidak ada acara lain yang lebih bagus, saya tune-in di stasiun terkait.
Pas yang muncul adalah pria terakhir yang namanya Denny (kl ga salah).
Sebelum penampakannya, ditayangkanlah VT yang berisi komentar dari sepupu peserta yang bilang kurang lebih seperti ini, “..oh ya, jangan sampe deh ya, dapet cewek yang matre itu! Namanya kalo gak salah Tha-Tha gitu deh..”
Then you know what, pada akhirnya si cowok milih aja gitu si cewek yang dinotabenekan oleh saudaranya sebagai cewek matre, alasannya? Menurut saya: Fisik banget lah.. dari tiga cewek yang tersisa, fisik yang paling oke ya si Octha itu – Oh ya, she’s a model anyway.
Ya elah.. apa SEMUA COWOK isinya mentingin fisik doank ya? Biar matre, hajar aja! Orang cantik en sexy gituh… Duuhhh… kalo gitu, VT yang ditayangin emang sengaja ditampilkan supaya si Octha – Octha itu merasa tertantang gitu ya, what a trick..
Esok harinya,
Saya tonton re-run-nya yang kebetulan baru dimulai, jadi masi baru peserta kedua atau ketiga yang ditampilkan. Dan datanglah… seorang pria yang namanya Ray.
Di tahap akhir, yang tersisa hanya dua orang: yang satu model, namanya Rachel; yang satu lagi, namanya Oby, pekerjaannya saya lupa, tapi yang pasti bukan model. Secara fisik, kedua cewek itu berbeda 180 derajat. Si Rachel tipikal cewek yang langsing singset gitu deh.. sedangkan si Oby, tipikal cewe yang badannya besar.
Then, seperti biasa, sang pria mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan pamungkas. Jawaban keduanya sama-sama bagus, sama-sama pintar. Tapi ya itu, beda tipe, fisik yah bok! Lantas siapakah yang dipilih?
Maka sodara-sodara, otak saya langsung flashback ke acara TMOI yang saya tonton kemarin, dimana pada akhirnya si cowok memilih cewek dengan packaging yang lebih menarik. So, pukul rata! Saya pikir si cowok akan memilih Mba Rachel.
Ternyata eh ternyata sodara-sodara… yang akhirnya dipilih oleh si mas Ray itu adalah…
Oby… Yeay..!!
Vote for guy that not just focusing on physical appearance only. We need more this kind of guy in this world, God!
Ternyata, kita (atau saya ya?!) tidak bisa pukul rata atas pria-pria yang ada didunia ini, aha!! (sambil berpose Peace V dan kedip-kedip) :P
Kemarin ini, kebetulan pas saya ganti-ganti channel, muncullah si acara TMOI itu di layar kaca. Berhubung tidak ada acara lain yang lebih bagus, saya tune-in di stasiun terkait.
Pas yang muncul adalah pria terakhir yang namanya Denny (kl ga salah).
Sebelum penampakannya, ditayangkanlah VT yang berisi komentar dari sepupu peserta yang bilang kurang lebih seperti ini, “..oh ya, jangan sampe deh ya, dapet cewek yang matre itu! Namanya kalo gak salah Tha-Tha gitu deh..”
Then you know what, pada akhirnya si cowok milih aja gitu si cewek yang dinotabenekan oleh saudaranya sebagai cewek matre, alasannya? Menurut saya: Fisik banget lah.. dari tiga cewek yang tersisa, fisik yang paling oke ya si Octha itu – Oh ya, she’s a model anyway.
Ya elah.. apa SEMUA COWOK isinya mentingin fisik doank ya? Biar matre, hajar aja! Orang cantik en sexy gituh… Duuhhh… kalo gitu, VT yang ditayangin emang sengaja ditampilkan supaya si Octha – Octha itu merasa tertantang gitu ya, what a trick..
Esok harinya,
Saya tonton re-run-nya yang kebetulan baru dimulai, jadi masi baru peserta kedua atau ketiga yang ditampilkan. Dan datanglah… seorang pria yang namanya Ray.
Di tahap akhir, yang tersisa hanya dua orang: yang satu model, namanya Rachel; yang satu lagi, namanya Oby, pekerjaannya saya lupa, tapi yang pasti bukan model. Secara fisik, kedua cewek itu berbeda 180 derajat. Si Rachel tipikal cewek yang langsing singset gitu deh.. sedangkan si Oby, tipikal cewe yang badannya besar.
Then, seperti biasa, sang pria mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan pamungkas. Jawaban keduanya sama-sama bagus, sama-sama pintar. Tapi ya itu, beda tipe, fisik yah bok! Lantas siapakah yang dipilih?
Maka sodara-sodara, otak saya langsung flashback ke acara TMOI yang saya tonton kemarin, dimana pada akhirnya si cowok memilih cewek dengan packaging yang lebih menarik. So, pukul rata! Saya pikir si cowok akan memilih Mba Rachel.
Ternyata eh ternyata sodara-sodara… yang akhirnya dipilih oleh si mas Ray itu adalah…
Oby… Yeay..!!
Vote for guy that not just focusing on physical appearance only. We need more this kind of guy in this world, God!
Ternyata, kita (atau saya ya?!) tidak bisa pukul rata atas pria-pria yang ada didunia ini, aha!! (sambil berpose Peace V dan kedip-kedip) :P
September 23, 2009
Menunggu cinta bagaikan menunggu bus
Buat mereka yang tahu rasanya menunggu bus untuk perjalanan pulang maupun pergi ke tempat tujuan, kalau boleh saya analogikan, menunggu cinta mirip dengan menunggu bus.
Dimana letak persamaannya?
Begitu jam sudah menunjukkan waktu pulang teng-go, kita buru-buru pulang dengan ekspektasi bus dambaan kita akan lewat, sehingga kita bisa pulang dengan perjalanan sesuai ekspektasi.
Tapi, saat kita tidak bisa pulang teng-go, ya sudah, kita menunggu bus lewat dengan rute yang biasa kita lewati.
Kalau bus-nya gak lewat-lewat juga, gimana?
Saat ada banyak pilihan, kita biasanya menggunakan seluruh informasi yang kita punya, sehingga masi bisa sedikit belagu dengan tidak mengambil apa saja yang lewat, apa saja yang tersedia, kita ambil yang kita mau. Apalagi kalau misalnya kita sudah menunggu lama, ogah dong ambil bus yang berdiri, apalagi penuh, apalagi gak ber-AC.
Masalahnya cost untuk menunggu itu sudah keluar, jadi kalo kita take for granted, berasa rugi dong.. Makanya, kita cenderung lebih perfeksionis tuh jatohnya...
Ngerti ga?
Ini mo nyampein teori cinta apa curhat soal nunggu bus sih?
Hahaha, maaf, teorinya belum bisa tersampaikan dengan baik lewat kata2. tapi inti teorinya ya dua baris terakhir itu lah. Agree?
Dimana letak persamaannya?
Begitu jam sudah menunjukkan waktu pulang teng-go, kita buru-buru pulang dengan ekspektasi bus dambaan kita akan lewat, sehingga kita bisa pulang dengan perjalanan sesuai ekspektasi.
Tapi, saat kita tidak bisa pulang teng-go, ya sudah, kita menunggu bus lewat dengan rute yang biasa kita lewati.
Kalau bus-nya gak lewat-lewat juga, gimana?
Saat ada banyak pilihan, kita biasanya menggunakan seluruh informasi yang kita punya, sehingga masi bisa sedikit belagu dengan tidak mengambil apa saja yang lewat, apa saja yang tersedia, kita ambil yang kita mau. Apalagi kalau misalnya kita sudah menunggu lama, ogah dong ambil bus yang berdiri, apalagi penuh, apalagi gak ber-AC.
Masalahnya cost untuk menunggu itu sudah keluar, jadi kalo kita take for granted, berasa rugi dong.. Makanya, kita cenderung lebih perfeksionis tuh jatohnya...
Ngerti ga?
Ini mo nyampein teori cinta apa curhat soal nunggu bus sih?
Hahaha, maaf, teorinya belum bisa tersampaikan dengan baik lewat kata2. tapi inti teorinya ya dua baris terakhir itu lah. Agree?
Spiderman 3
Dulu, waktu saya baru menonton bagian akhir dari Spiderman 3, saya sempet bete gak karuan sama pemeran utama wanitanya, siapa tuh namanya? Kirsten Dunst
Kenapa bete? Karena di bagian akhir film itu, kalau anda ingat, action-nya dia itu ya cuma teriak-teriak minta tolong diselamatkan. Literally, teriak-teriak doang sambil nunjukkin tampang cemas bin worried jatuh dari ketinggian sekian ratus meter. (padahal mah sebenernya itu cuma tipuan kamera)
Kata hati saya menggerutu, “ah.. kalo beginian doang mah, gue juga bisa”
Lalu, saya coba menganalisa lagi seluruh ke-bete-an plus gerutu saya. “Emang gue bisa?”
Kalo disuruh teriak-teriak doang sih, bisa-bisa aja, tapi....
TAPI...
TAPI...
Kalo saya yang ngegantiin dia mah, judulnya bukan lagi Spiderman 3 tuh kayaknya, yang ada jadi... SAPI DEMEN 3
February 28, 2009
is an Auditor equal to..
…on February 28, 2008 – by the time of 12.30 am
Guess where I am: STILL at my client’s place, on Cikampek.. jauh yeee… jam segitu lagi, udah beler mata gue, otak udah mule-mule dongo, so what did I do? Ya kerja laaah… menurut eLL?? Hehe
Eniwei, gue duduk bersebelahan dengan client super innocent g yang namanya Pak Cecep, sumpah, tu orang lucu banget (karena super innocent+logat bandungnya yang ga karuan) tapi bisa juga super nyebelin, terutama kalo lagi silent coz of loading lama-nya dia saat gue request data. It’s like I’m talking to Ms.Dos machine while everybody else have been working as a Pentium Intel inside (btw, itu comparation gue apple to apple gak sih?) hahaha..
1. Pak Cecep, saya mo minta detail AR
Lantas responnya hanya diam dan sepertinya gue mendengar suara mesin “ziiiing…” loadingnya lama
2. Pak Cecep, saya mo minta Inventory flow
Again, it’s a ziiing sound..
3. Pak Cecep, ini kenapa gak tie-up ya?
Ziiing..lagi
4. Pak Cecep, nape sih loeeee??? Helloooo…
(gak pernah segitunya sih, haha)
Then, gong-nya adalah, waktu all of the sudden, Mr Cecep bilang ke g, “Aneh ya,”
G: “Apa yang aneh, Pak?”
Mr Cecep: “semalem saya teh ngimpi ini, ditungguin auditor..”
G: “Oya?”
Mr Cecep: “iya, kayak pas lagi tidur teh ada yang suara-suara minta data begitu”
G yang terpesona oleh keluguan Mr Cecep dan sangat dipengaruhi oleh tingkat stress mengarah ke depresi karena menghadapi klien macam klien Cikampek gue itu, langsung tertawa begitu kerasnya (sebenernya sih ga lucu2 amat ya, tapi anehnya, I found it terribly hilarious..)
Terus.. Mr Cecep melanjutkan ceritanya
“iyah, abis itu ya saya bangun, trus langsung aja saya solat..”
Et dah, dia langsung solat setelah mimpi ditongkrongin auditor, duile.. emangnye kite setan apa, bisa ilang kalo yang ditrongkongin solat, wkwkwk…
Pesan moral: jangan samakan auditor dengan syaiton nirojim (gini bukan sih nulisnya?) WE WILL NOT DISSAPEAR EVEN IF YOU PRAY TO GOD, so.. give us the DATA WE’VE REQUEST, then we’ll be satisfied and leave from your sight (for good if we could – well, I would, haha) J
Eh, unless ada finding lagi setelah loe kasi data, hahaha..
February 03, 2009
Silakan duduk, Pak/Bu..
Sore itu gue baru balik dari kantor, jarum jam sudah menunjukkan pukul enam lewat sepuluh menit sore, tetapi awan di langit belum menunjukkan kegelapannya. Setelah menunggu selama kurang lebih sepuluh menit, akhirnya bus yang biasa gue tumpangi datang juga.
Kelihatannya bus itu penuh, biasalah, kalo hari Sabtu begini, kendaraan umum agak penuh oleh massyarakat umum yang sedang traveling. Tapi berhubung bus itu bergerak dengan cukup cepat alias tidak lelet, gue memutuskan untuk tetap menaikinya. Wah sial, ternyata beneran penuh busnya, baru sampe Sudirman aja sudah lumayan penuh baris tengahnya terisi oleh orang-orang yang berdiri karena tidak kedapatan tempat duduk. Ya sudahlah, I need to work out either, sekalian aja sambil olahraga dengan berdiri di dalam bus, lumayan satu jam. Oke, kujalani perjalanan hari itu dengan ikhlas, toh kupikir saat mencapai Lebak Bulus, gue sudah akan memperoleh tempat duduk.
Penumpangnya makin bertambah seiring dengan laju bus, untungnya tidak berapa lama ada seorang bapak dan anaknya yang akan turun, dan tempat duduknya tidak terlalu jauh dari posisi berdiri gue, ya sudah, gue antri saja, sapa tahu boleh dikasi tempat duduk sama si bapak yang sedang berdiri di posisi yang lebih dekat, beruntung si bapak itu mengalah. Begitu gue mo duduk, di depan gue, gue mendapati seorang kakek yang sudah berumur sedang berdiri, merasa bahwa dia lebih pantas untuk mendapat tempat duduk itu, akhirnya gue menawarkan si kakek untuk duduk, ternyata si kakek menjawab, “oh, tidak apa-apa Nak. Silakan duduk saja”
Ya sudah, gue akhirnya duduk, karena sepertinya si kakek masih bisa bertahan untuk berdiri, at least he knew that.
Eh, gak berapa lama, pria yang duduk di kursi yang bersebrangan dari gue berdiri, kemudian menawarkan si Kakek untuk duduk, dan si Kakek akhirnya duduk juga, ternyata dia juga membawa bawaan sekantong yang kayanya cukup berat.
Dalam hati, gue merasa cukup senang, karena ternyata masih ada juga orang yang tergerak hatinya oleh nilai dasar semacam itu. Mempersilakan orang yang lebih pantas untuk duduk daripada kita di kendaraan umum, sebagai value dasar/moral yang sebenarnya sudah dajarkan sedari kita kecil sudah jarang gue temui di jaman sekarang ini, biasanya orang-orang hanya pura-pura tidak melihat atau pura-pura tertidur kalo melihat mereka yg sebenernya harus dipersilakan duduk (i.e. orang hamil, orang tua, etc-u know lah..)
Aneh juga ya, terkadang orang harus ‘disentil’ dulu baru bisa tersadarkan atas nilai-nilai dasar dan moral semacam itu..
Kelihatannya bus itu penuh, biasalah, kalo hari Sabtu begini, kendaraan umum agak penuh oleh massyarakat umum yang sedang traveling. Tapi berhubung bus itu bergerak dengan cukup cepat alias tidak lelet, gue memutuskan untuk tetap menaikinya. Wah sial, ternyata beneran penuh busnya, baru sampe Sudirman aja sudah lumayan penuh baris tengahnya terisi oleh orang-orang yang berdiri karena tidak kedapatan tempat duduk. Ya sudahlah, I need to work out either, sekalian aja sambil olahraga dengan berdiri di dalam bus, lumayan satu jam. Oke, kujalani perjalanan hari itu dengan ikhlas, toh kupikir saat mencapai Lebak Bulus, gue sudah akan memperoleh tempat duduk.
Penumpangnya makin bertambah seiring dengan laju bus, untungnya tidak berapa lama ada seorang bapak dan anaknya yang akan turun, dan tempat duduknya tidak terlalu jauh dari posisi berdiri gue, ya sudah, gue antri saja, sapa tahu boleh dikasi tempat duduk sama si bapak yang sedang berdiri di posisi yang lebih dekat, beruntung si bapak itu mengalah. Begitu gue mo duduk, di depan gue, gue mendapati seorang kakek yang sudah berumur sedang berdiri, merasa bahwa dia lebih pantas untuk mendapat tempat duduk itu, akhirnya gue menawarkan si kakek untuk duduk, ternyata si kakek menjawab, “oh, tidak apa-apa Nak. Silakan duduk saja”
Ya sudah, gue akhirnya duduk, karena sepertinya si kakek masih bisa bertahan untuk berdiri, at least he knew that.
Eh, gak berapa lama, pria yang duduk di kursi yang bersebrangan dari gue berdiri, kemudian menawarkan si Kakek untuk duduk, dan si Kakek akhirnya duduk juga, ternyata dia juga membawa bawaan sekantong yang kayanya cukup berat.
Dalam hati, gue merasa cukup senang, karena ternyata masih ada juga orang yang tergerak hatinya oleh nilai dasar semacam itu. Mempersilakan orang yang lebih pantas untuk duduk daripada kita di kendaraan umum, sebagai value dasar/moral yang sebenarnya sudah dajarkan sedari kita kecil sudah jarang gue temui di jaman sekarang ini, biasanya orang-orang hanya pura-pura tidak melihat atau pura-pura tertidur kalo melihat mereka yg sebenernya harus dipersilakan duduk (i.e. orang hamil, orang tua, etc-u know lah..)
Aneh juga ya, terkadang orang harus ‘disentil’ dulu baru bisa tersadarkan atas nilai-nilai dasar dan moral semacam itu..
January 19, 2009
Beware of..
Pernah kenalan sama mahluk lawan jenis via internet?
Pasti pernah, yang ngaku gak pernah, bo’ong yaaa…? Or should I say, kasian deh lu..
Hehe, becanda..
Well, I’ll just share a bit of my experience, it’s not that gue yg sering ngajak kenalan, biasanya justru diajak kenalan-mungkin me-refer pada nama gue yang bagus (thanks to my parents) yang sebenarnya tidak dapat diasosiasikan dengan wujud fisik pemiliknya (setidaknya itu yang gue pelajari dari kehidupan g selama ini).
Misalnya, temen sekantor gue, Rachman Saleh (sori ya Le, nama lo gue jadiin sample). Kalo lo refer ke nama itu, kurang lebih yang ada di imaji lo adalah mahluk yang saleh, alim, penyayang, pokonya bagus-bagus.. tetapi, begitu mengenal dia, eh buseeeedd... jauh dari itu, wakakak..
Eniwei, itu juga berlaku sama gue, makanya, seringkali gue bilang dan gue terapkan dalam kehidupan sehari-hari, jangan nilai orang dari luarnya saja (terutama dari namanya..)
Lalu, berlanjut pada suatu hari, tiba-tiba ada seseorang yang say Hi! Ke gue, namanya rada aneh gitu, namanya:
U M U R..- nama yang aneh, pastinya bukan orang indonesia, bukan begitu bukan?
Oke, g say Hi balik, kalo kenalan sama orang-orang luar negri biasanya lebih asik, karena kita bisa liat mindset baru, cara pikirnya bisa dibilang beda dari orang2 indonesia. Lagian, bisa cukup terhindar dari ajakan2 kopi darat gitu-gitu, maklum kan overseas, hehe...
Lanjut..
Terus setelah itu, freakingly amazing, dia tiba-tiba bilang kalo dia mo ke Indo, mo ketemu sama gue. Lah buset.. baru kenal kali mas, lagian gue juga ga gitu tertarik ama kopi darat kopi darat gitu..
Pas gue tanya, asalnya darimana? Doi dari Turki aja gituh.. Gelo, eta teh jauh pisan..
Trus dia ngomong lagi, mo ke Indo, pas gue tanya lagi alesannya, dia bilang “I want to recognize you”
Dooeeeenk…
Gue langsung sigap, ngomong ke dia, supaya otaknya kembali rasional (dan supaya gue terhindar dari masalah kalo misalnya dia bener-bener jadi ke Indo Cuma BUAT RECOGNIZE GUE..!) Aje gilee.. emangnya gue objek wisata Indonesia apa??
Abis itu, tiba-tiba dia kirimin fotonya ke gue, ya udah, g accept, iseng doang, File Accepted – gue klik to Open, dan kebukalah potonya di photo editor gue.
Mampus gue!
Tu orang yang namanya umur, ude tuir, kayak mafia, tangan kanan megang rokok dan bir, tangan kiri megang pistol, MAMPUS GAK LOE..?? trus gayanya satu kaki diangkat ke kursi, Emak..tolongin gue…! Ngeri abis ngeliat orang entu, wakakaka…
Abis itu langsung aja gue bilang
“u look like a mafia” sambil input emoticons ketawa :D – takut-takut tu orang marah trus nembak (literally nembak g pake pistolnya itu) dari jauh – Ah, lebay banget seeehh..
Trus dia merespon dengan ketawa imut2 gitu.. (blushing smiley face)
Untungnya dia ga lanjutin ngobrol lagi.. Phiuhh..thanks God!!
Langsung gue ngibrit, kabur ahhh…
Pasti pernah, yang ngaku gak pernah, bo’ong yaaa…? Or should I say, kasian deh lu..
Hehe, becanda..
Well, I’ll just share a bit of my experience, it’s not that gue yg sering ngajak kenalan, biasanya justru diajak kenalan-mungkin me-refer pada nama gue yang bagus (thanks to my parents) yang sebenarnya tidak dapat diasosiasikan dengan wujud fisik pemiliknya (setidaknya itu yang gue pelajari dari kehidupan g selama ini).
Misalnya, temen sekantor gue, Rachman Saleh (sori ya Le, nama lo gue jadiin sample). Kalo lo refer ke nama itu, kurang lebih yang ada di imaji lo adalah mahluk yang saleh, alim, penyayang, pokonya bagus-bagus.. tetapi, begitu mengenal dia, eh buseeeedd... jauh dari itu, wakakak..
Eniwei, itu juga berlaku sama gue, makanya, seringkali gue bilang dan gue terapkan dalam kehidupan sehari-hari, jangan nilai orang dari luarnya saja (terutama dari namanya..)
Lalu, berlanjut pada suatu hari, tiba-tiba ada seseorang yang say Hi! Ke gue, namanya rada aneh gitu, namanya:
U M U R..- nama yang aneh, pastinya bukan orang indonesia, bukan begitu bukan?
Oke, g say Hi balik, kalo kenalan sama orang-orang luar negri biasanya lebih asik, karena kita bisa liat mindset baru, cara pikirnya bisa dibilang beda dari orang2 indonesia. Lagian, bisa cukup terhindar dari ajakan2 kopi darat gitu-gitu, maklum kan overseas, hehe...
Lanjut..
Terus setelah itu, freakingly amazing, dia tiba-tiba bilang kalo dia mo ke Indo, mo ketemu sama gue. Lah buset.. baru kenal kali mas, lagian gue juga ga gitu tertarik ama kopi darat kopi darat gitu..
Pas gue tanya, asalnya darimana? Doi dari Turki aja gituh.. Gelo, eta teh jauh pisan..
Trus dia ngomong lagi, mo ke Indo, pas gue tanya lagi alesannya, dia bilang “I want to recognize you”
Dooeeeenk…
Gue langsung sigap, ngomong ke dia, supaya otaknya kembali rasional (dan supaya gue terhindar dari masalah kalo misalnya dia bener-bener jadi ke Indo Cuma BUAT RECOGNIZE GUE..!) Aje gilee.. emangnya gue objek wisata Indonesia apa??
Abis itu, tiba-tiba dia kirimin fotonya ke gue, ya udah, g accept, iseng doang, File Accepted – gue klik to Open, dan kebukalah potonya di photo editor gue.
Mampus gue!
Tu orang yang namanya umur, ude tuir, kayak mafia, tangan kanan megang rokok dan bir, tangan kiri megang pistol, MAMPUS GAK LOE..?? trus gayanya satu kaki diangkat ke kursi, Emak..tolongin gue…! Ngeri abis ngeliat orang entu, wakakaka…
Abis itu langsung aja gue bilang
“u look like a mafia” sambil input emoticons ketawa :D – takut-takut tu orang marah trus nembak (literally nembak g pake pistolnya itu) dari jauh – Ah, lebay banget seeehh..
Trus dia merespon dengan ketawa imut2 gitu.. (blushing smiley face)
Untungnya dia ga lanjutin ngobrol lagi.. Phiuhh..thanks God!!
Langsung gue ngibrit, kabur ahhh…
Subscribe to:
Posts (Atom)