July 10, 2010

Reimburse-able..?

As I had a little extra time, iseng-isengly saya mengubek-ubek isi tas dan dompet saya, mencari bill atau tagihan-tagihan yang kira-kira bisa saya reimburse ke kantor.

Lumayan.. buat nambah other income :P

Lalu saya menemukan beberapa lembar karcis parkir dan… Taraaaa.. saya temukan selembar kertas billing yang saya pikir bisa direimburse. Ternyata oh ternyata, isinya tak lain dan tak bukan adalah…




















Sooo.. would you consider it reimburse-able? Ahahahaha… ngarep.com

PS: that was NOT for personal usage or inventories. Those were meant to be given as a wedding present for good friend of mine, trust me xD

June 05, 2010

Luna– Ariel

Wait wait wait, you are not gonna find the video here, though kayaknya ud pada ngeliat juga ya :P

So, kali ini gue mo bahas tentang masalah video Luna-Ariel, plus dosa, aaa…

See where’s it going?
Tapi… bukan dosa atas apa yg dua tokoh utama dalam video itu lakukan.. kalo dosa yang itu mah, biar Tuhan aja yg atur **wink wink

Yang mau saya bahas adalah dosa bagi sang penyebar video tersebut. Tega-teganya video itu diluncurkan ke publik tanpa sensor ato minimal blur-in face part kedua pelaku tersebut. **ahaha.. try to play the angel part ;P

Yang lebih mengerikan lagi adalah, ketika saya mulai mencari-cari video itu, ternyata begitu mudah untuk mendapatkan link maupun file-nya itu sendiri, wong katanya sudah menyebar juga via BBM toh.

Tiba-tiba di pikiran saya langsung terbesit: Waduh, ini dosa penyebarnya gimana yaaaaa??? Atau jangan-jangan dosanya diakui ala Multi Level Marketing??

Artinya, setiap ada orang baru yang menerima file tersebut, secara otomatis, primary “marketer” ataupun sumber sebelumnya ikutan kena dosa.

Hmmmpph.. kalo begini caranya, saya cuma bisa berdoa, “Tuhan… semoga downliner mereka cuma sedikit…” :P

May 29, 2010

Jadi, salah gue?

Dalam perjalanan sepulang dari kantor, di dalam bus angkutan umum, saya dan seorang teman lama berbincang dan saling bertukar cerita. Teman saya itu memiliki tawa dengan oktaf tinggi yang memang bukan dibuat-buat. Memang default setting-nya seperti itu. Berhubung sebentar lagi dia akan pergi menetap di luar Jakarta, kami dengan serunya bercerita sambil cekakak-cekikik memanfaatkan waktu yang tersisa.

Kebetulan, dalam bus itu, ada seorang pengamen yg sedang menyanyi. Dan kebetulan pula, kami duduk berbeda baris, sehingga utk saling berkomunikasi, membutuhkan extra effort dan extra volume.

And so we chat, and so the pengamen sang.

Dua puluh menit kemudian, si pengamen seperti biasa mengedarkan kantongnya utk diisi, tapi entah kenapa, ia mulai ‘bertingkah’. Ia menaruh kantungnya di depan muka teman saya, yang kebetulan berada di baris yg lebih depan, cukup lama, padahal saya sudah lihat kalau dia sudah kasih ‘tangan’ ke si pengamen, sebagai tanda minta maaf karena tidak berniat memberi uang kecil. Setelah diedarkan ke orang berikutnya, dia kembali menaruh kantungnya di depan muka teman saya. Aneh bin ajaib ni orang, saya pikir. Kemudian dia mengarahkan kantungnya ke saya, yang kemudian saya sambut dengan kata maaf sambil memberi tangan. Then… all of the sudden, dengan sewotnya dia berkata dengan nada marah, “Iya, saya tahu mbak, orang kok ngomong kenceng banget, mana ketawanya keras pula!” en the bla bla bla cuih..

Yeeeeeeeeeee… situ sewot? Emang ada yg minta situ nyanyi?? Beside, saya dan teman saya itu, swear to God, ga ada maksud sama sekali untuk mengganggu ‘pertunjukan’ dia. Jadi kalo suara lo kalah sama suara ketawa dua cewek, salah gue??

Cih, Sampah!
**dibuat dengan emosi yang masih kebawa.. and FYI, kagak ada, yang minta situ nyanyi juga kok, WEEEEEEEK :P

Romantisme ditengah kewarasan

Seorang wanita terduduk diam diantara tumpukan-tumpukan kantung plastik, di depan rumah yang tidak berpenghuni. Pandangan matanya nanar, kosong, terbengong. Ia sama sekali tidak mengenakan riasan muka, hanya pakaian kotor seadanya yang melekat di kulit dan corengan-corengan debu yang menghias pipinya. Rambutnya dibiarkan berantakan.

Dalam jarak beberapa ratus meter kutemui seorang pria yang penampakannya tidak kalah dari sang wanita. Di tangannya, ia menggenggam sebuah pepaya yang masih hijau kulitnya. Sambil merokok dan berjalan dengan penuh percaya diri, ia berjalan menuju ke tempat wanita itu duduk terdiam.

Tak lama kemudian, sang pria menghampiri si wanita yang masih duduk dengan tatapan nanar. Ia memberikan pepaya itu, untuk kemudian dimakan bersama. Mereka berdua hanyalah sepasang orang gila.

Namun ditengah ketidakwarasan mereka, saya justru menemukan pelajaran tentang ketulusan dan kasih sayang.

Sesuatu yang tampaknya masih sulit untuk ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Hmmpph.. sambil menghela napas **mellow banget-kah? :P

April 15, 2010

Overrated


Terkadang.. sesekali.. oke, sejujurnya, seringkali, saya merasa bahwa saya sudah cukup menjadi master akan kehidupan saya sendiri dan mungkin menjadi ‘guru’ bagi beberapa teman saya yang membutuhkan sedikit saran kehidupan.

Is that what we called as narcissism? No, it’s just some sort of MY self-awareness. XP
Yet, I might, now, consider myself overrated, or at least just too fast to consider myself as good as that.

Terbukti dari satu kejadian yang menyadarkan saya bahwa asam garam memang tidak ada shortcut-nya dan… diatas langit masih ada langit.

So, the story began, I was attending a social network event, in which Reza Gunawan (find out more about him at RezaGunawan.com) was one of the guest stars in the event. People asked him about their life problems, i.e. what’s the difference between self-fulfillment and being selfish, how can someone face the problem with ease at heart while he still have some unsolved problems in his heart, how to forgive and forget, and several other fundamental questions on their (might be) complicated life. While hearing people asking, he’s answering, explaining, and helping them.

He was answering those questions in very simple, understandable and solving way. Although for some people, it might be hard, even to understand it.
Yet, I believe that if I were faced in those people’s life problem, I will have the answer, need no asking nor consulting it. Ha-ha, the narcissi phase began.

Seriously, I will have the answer for most of those life issues.

But, since I fancy him, simply fancy him; I have this urge to get his autograph – deh… abege banget yak

So then, I had my time asking him about anything, like others do. But, I don’t think I have anything to be asked to a Reza Gunawan. So, I was just saying, “Hi Reza. My name is Dita. I do not have anything to ask for you, but I want you to sign it (the book) for me and just wish me luck” :D
And you know what’s happening next?

He’d smile to me, grab the book, write something and sign on it and then return it to me, saying, “Hi Dita, I Hope you’re doing great with your life” with a simple sincere smile on his face.

Gladly grab back the book then read the words he gave me on his page, he wrote “MAKE your own LUCK

That, my friend, is when I realized that I might consider myself a bit overrated... xD

March 19, 2010

Mataram itu...


Mengakui sedikit dari kelemahan saya: I’m bad at geography subject.

Coba saja tanyakan pada saya, “di Kalimantan sebelah manakah Balikpapan itu?” Saya tidak akan tahu jawabannya. Pasti saya akan langsung merujuk pada google utk mengetahui jawabannya. Thanks God, there’s google and Wikipedia.

Saya sudah sadar akan kelemahan saya itu semenjak lulus dari SMA. Well, nobody is perfect, rite?

Maka kejadian berikut ini akan tambah mensahihkan my inability in geographical matter.

Di suatu siang saat saya sedang asiknya menonton acara wisata di televisi:
Adegan pertama: si pembawa acara sedang bersantai sambil makan buah di pinggir pantai di Lombok
Adegan kedua: si pembawa acara mengunjungi restoran, dengan area yg tertera di layar kaca: Mataram

Kontan saya melontarkan pertanyaan ke nyokap saya, “Ma, emang Mataram sama Lombok itu deket ya?”

Dan emak gue, sambil terperangah, menjawab pertanyaan anaknya yang dodol–maknanya ambigue ya, pertanyaannya yg dodol atau anaknya yang dodol bertanya– dengan tenang Nyokap menjawab, “Wong Mataram itu ada di Lombok”

Gubrak!!! Huahaha, I’m definitely bad at geography :P

February 17, 2010

Buy one and (think you) got everything you need?!

Alkisah dalam kesempatan curi-curi break time di sore hari. Saya-seperti biasa-menuju ke pantry, berharap ada makanan gratisan dari orang-orang yang ulangtaon atawa dari klien yang tiba-tiba ngasih cakes yummy, sluurrpp... xP

Kebetulan, ada dua orang yang sedang berada disana. Kita sebutlah seorang atasan bule, Mister Y dan seorang IT personnel, Mister X. And the scene goes on like this:

Mister Y menunjuk mesin pembuat kopi yang sudah rusak semenjak beberapa hari yang lalu sambil berkata kepada Mister X, “You can fixed it, right? Go fix it..” sambil tertawa.

Ikut tergelitik, dalam hati saya nyeletuk, “mentang-mentang si Y orang IT, si mister X pikir segala barang elektronik bisa dibenerin dia kali ya??”


**yah, asal jangan genteng lo bocor aja minta dibenerin juga, halah-halah...